Menjadi Dewasa di Indonesia

Dulu saya tidak pernah menyangka akan sampai di titik ini; ketika usia 30 tahun terasa lebih dekat dibandingkan 17 tahun.  Meskipun sudah diakui sebagai warga negara yang sah dan sudah mendapatkan label 'dewasa', rasanya masih ada banyak sekali persoalan di dunia ini yang belum saya ketahui.  Hari demi hari saya bisa bertahan hidup karena bimbingan dari orang tua dan rekan sejawat; serta berkat anugerah dari Tuhan.

Terlintas di benak saya mengenai apa makna sesungguhnya dari menjadi seorang 'dewasa'.  Satu kata ini artinya dalam sekali.  Dewasa dalam sudut pandang mana?  Secara negara, saya sudah dewasa jika sudah memiliki kartu tanda penduduk dan cukup umur untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik.  Secara mental, tiap orang memiliki standar masing-masing untuk menilai kedewasaan seseorang.  Secara hubungan darah?  Mungkin bagi kedua orang tua saya, saya akan selalu menjadi anak kecil mereka; namun bagi adik-adik saya sudah selalu dianggap dewasa sejak mereka lahir.  Bagi orang lain yang mungkin tidak mengenal saya sama sekali?  Mungkin saya adalah orang dewasa yang sudah bisa dimintai pertanggungjawaban.

Lalu muncul sebuah kesadaran dalam batin saya.  Ada perbedaan yang sangat besar jika kegiatan sehari-hari saat ini dibandingkan dengan zaman ketika masih bersekolah dahulu.

Menjadi dewasa artinya lebih sering mengunjungi rumah sakit; mulai terbiasa masuk ke dalam gedung yang udaranya dipenuhi oleh bau obat-obatan dan antiseptik.  Kini bukan orang lain atau orang tua yang mengurus perintilan mengenai administrasi; sayalah yang kini berjalan mondar-mandir ke klinik dan apotek, mengisi berkas-berkas dan menghafalkan jadwal kunjungan serta daftar obat.

Menjadi dewasa artinya paham bahwa memiliki aset tidak semudah memiliki mainan figuran.  Ada pajak yang harus diurus serta legalitas yang harus diperjuangkan.  Apesnya lagi, pun aset diam dan aset bergerak semua memiliki jadwal pembayaran pajak rutin yang wajib dibayarkan.

Masih seikat dengan pajak; menjadi dewasa artinya melaporkan pajak pendapatan tahunan pribadi dan melunasi tanggungan yang kita utangkan kepada negara.  Mirisnya, hal ini harus dilakukan ketika jelas-jelas kita semua tahu uang pajak kita masuk ke kantong-kantong tikus berdasi yang duduk di jabatan pemerintahan alih-alih kembali kepada kita dalam bentuk pembangunan yang meningkatkan kualitas hidup rakyat.

Menjadi dewasa artinya masuk ke medan perang yang tidak diketahui orang lain kecuali diri sendiri.  Entah kapan, tiba-tiba kita tersadar bahwa ada kalanya bercerita kepada orang lain bukan hal yang bisa dengan mudah dilakukan.  Ada yang tidak ingin berkontribusi membuat air semakin keruh; ada pula yang terluka dan kini takut membuka hati karena sudah pernah mencicipi masamnya pengkhianatan dan mulut yang tidak memiliki kunci gembok.

Menjadi dewasa artinya belajar menumbuhkan kemampuan untuk bersyukur terhadap diri sendiri, terutama ketika banyak teman sebaya terlihat seperti orang dewasa yang 'sesungguhnya': menikah, jalan-jalan ke luar negeri, memiliki anak, meraih jabatan tinggi, mendapatkan barang incaran, membeli aset pribadi, asik dengan hobi, dan hal-hal lain yang tampaknya indah di mata telanjang manusia.

Menjadi dewasa artinya sadar bahwa negara ini memang salah; korupsi sudah berakar terlalu keras dan dalam.  Tiada hari tanpa melihat berita buruk, dan mengutuk para pejabat sudah menjadi kegiatan sehari-hari.

Menjadi dewasa artinya sadar bahwa kemiskinan struktural itu nyata, dan memang hanya pemerintahlah yang punya kekuatan untuk mengubah segala aspek dalam negara ini.  Orang dengan harta berkelimpahan juga sebetulnya bisa melakukan hal yang sama, namun rasanya tidak ada yang cukup peduli untuk ikut campur dalam hal ini.  Alhasil, yang bisa dilakukan adalah menjaga tradisi gotong royong tetap kuat dan saling bahu-membahu tolong-menolong antarrakyat.

Menjadi dewasa artinya melihat bahwa tidak semua orang bisa memiliki work-life balance.  Ada yang bahkan tidak diizinkan kehidupan untuk sekedar bisa bermimpi mendapatkannya.  Setiap hari adalah pergulatan untuk bisa terus hidup dan bergerak dari hari ke hari.

Menjadi dewasa artinya lebih sering datang ke berbagai perayaan; baik yang senang maupun sedih.  Turut berbahagia ketika ada yang mengucapkan syukur karena telah terjadi pencapaian baik dalam titik hidup orang yang kita kenal, serta turut berduka apabila musibah atau kehilangan terjadi kepada mereka juga.

Menjadi dewasa artinya dibukakan mata rohaninya, ada kesadaran bahwa manusia tidak cukup hidup dengan bekerja saja.  Meski secara fisik memang benar kita membutuhkan sandang pangan papan, tiap hari kita hidup mengejar kebahagiaan dan rasa damai sejahtera.  Dua hal terakhir tersebut bisa didapatkan secara temporer di dunia, namun yang kekal hanya berasal dari Tuhan saja.

Menjadi dewasa artinya menangis dalam gelapnya malam sebelum jatuh tertidur; berharap bahwa jika waktu bisa diputar, lebih baik hidup selama-lamanya sebagai anak kecil yang tangannya selalu digenggam erat oleh orang tua.  Tidak perlu memikirkan ini dan itu, karena mereka sudah mengurusnya untuk saya.  Rindu ketika yang ada dalam pikiran saat itu hanyalah bermain dan bergembira.


EA

9 Juni 2026


 





Komentar